Indonesia Resmi Miliki Rudal Balistik KHAN: Pertama di Asia Tenggara, Strategi Pertahanan Nasional
- GRC Insight

- Aug 22, 2025
- 2 min read

Indonesia baru-baru ini menunjukkan langkah strategis yang memberi sinyal kuat tentang perubahan dalam pendekatan pertahanan nasionalnya. Sebuah sistem rudal balistik taktis, buatan Turki, telah terlihat di Kalimantan Timur—menjadi pertanda bahwa Indonesia kini menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki kemampuan tersebut.
Sistem rudal ini dikenal sebagai KHAN, dikembangkan oleh Roketsan dari Turki, dan memiliki jangkauan hingga 280 kilometer. Rudal ini pertama kali muncul di media sosial Sahabat Keris pada 1 Agustus 2025, di pangkalan militer Raipur A Yonarmed 18 di Tenggarong—lokasi yang nantinya menjadi pusat kekuatan pertahanan di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Indonesia sendiri mulai memesan rudal ini sejak November 2022 melalui kontrak kerja sama yang ditandatangani pada ajang Indo Defence Expo 2022. Langkah ini tidak hanya memperkuat postur militer, tetapi juga melambangkan perubahan arah strategi Indonesia dari yang cenderung defensif menjadi lebih gesit dan proaktif dalam menjaga keamanan nasional.
Rudal KHAN merupakan versi ekspor dari rudal Bora milik Turki. Sistem ini memiliki jangkauan tembak hingga 280 km dengan tingkat akurasi tinggi (CEP sekitar 10 meter), serta mampu membawa hulu ledak konvensional. KHAN dilengkapi dengan teknologi panduan GPS + GLONASS serta sistem navigasi inersia, yang membuatnya dapat meluncur dengan presisi tinggi. Rudal ini dipasang pada kendaraan peluncur Tatra 8x8, memberikan mobilitas tinggi dan memungkinkan strategi “shoot and scoot” atau tembak lalu berpindah dengan cepat.
Penempatan KHAN di Kalimantan Timur bukan tanpa alasan. Kawasan ini memiliki posisi strategis, berada di antara Laut Flores, Selat Makassar, dan Laut Sulawesi, sekaligus relatif aman dari potensi serangan langsung. Selain itu, Kalimantan Timur juga merupakan lokasi IKN Nusantara sehingga sistem pertahanan ini difungsikan ganda: melindungi negara sekaligus menjaga pusat pemerintahan baru. Posisi geografis ini memungkinkan rudal beroperasi dengan cepat dan presisi.
Hadirnya rudal balistik ini jelas mengubah peta pertahanan di Asia Tenggara, yang selama ini tidak ada negara di kawasan tersebut memiliki kemampuan serupa. Ridzwan Rahmat, kepala analis pertahanan di Janes, menilai langkah Indonesia bisa menjadi awal era baru, bahkan memicu potensi perlombaan senjata di ASEAN. Sementara itu, Beni Sukadis, peneliti dari LESPERSSI, menyoroti bahwa kebijakan ini memiliki dua sisi: di satu sisi memperkuat daya tangkal, namun di sisi lain berpotensi menimbulkan kekhawatiran negara tetangga jika tidak diimbangi dengan transparansi dan diplomasi militer. Pihak militer menegaskan, sistem ini bersifat “aktif dan defensif”, dirancang untuk menjaga stabilitas wilayah dan bukan tindakan agresif.
Lebih dari sekedar sistem senjata, KHAN mencerminkan diversifikasi geopolitik Indonesia. Akuisisi ini menandakan bergesernya ketergantungan dari alutsista Barat ke arah kerja sama yang lebih luas, termasuk menjadikan Turki sebagai mitra strategis baru dalam industri pertahanan. Dengan demikian, KHAN tidak hanya memperkuat pertahanan nasional, tetapi juga menunjukkan Indonesia sebagai aktor regional yang lebih percaya diri dalam percaturan global.
Secara keseluruhan, penempatan sistem KHAN di Kalimantan Timur menandai babak baru strategi pertahanan Indonesia. Rudal ini bukan hanya simbol kekuatan militer, melainkan juga pernyataan kemandirian strategis: memperkuat daya tawar dalam hubungan internasional, melindungi IKN, serta menegaskan peran Indonesia sebagai penjaga stabilitas di Asia Tenggara.
Sumber:


